Rencana Relokasi Pedagang Dirapatkan

Pemulung ”Serbu” Pasar Pendopo

Lintas Kalteng | Sabtu, 28 Juli 2018 - 12:07:27 WIB

Pemulung ”Serbu” Pasar Pendopo

DIMASUKI PEMULUNG: Para pemulung mencari puing-puing sisa kebakaran di Pasar Pendopo, Jumat (27/7).

MUARA TEWEH – Sehari pascamusibah kebakaran yang menimpa pasar Pendopo yang terletak di Jalan Panglima Batur Muara Teweh, puluhan pemulung terlihat mendatangi lokasi tempat kejadian. Bermodalkan karung dan peralatan seadanya, mereka mengumpulkan sisa-sisa dari puing bangunan pasar yang terbakar.

Pantauan wartawan di lokasi, para pemulung ini mengumpulkan barang-barang seperti besi atau sejenisnya. Barang-barang ini diduga nantinya akan mereka jual ke pengumpul barang-barang rongsokan yang ada di daerah setempat. Kurangnya pengawasan dari pihak keamanan di lokasi, membuat mereka bisa leluasa keluar dan masuk bangunan pasar tersebut, meski pun sekelilingnya telah ada dipasang garis polisline polisi.

“Dari sejak tadi pagi sudah banyak pemulung yang masuk ke dalam pasar ini,” ucap warga Kota Muara Teweh bernama Roby, Jumat (27/7).

Sementara di sepanjang jalur Water Front City (WFC) atau di depan bangunan Pasar Pendopo yang terbakar Rabu (25/7) malam, sebagian pedagang kini telah ada yang mengelar barang dagangannya, dan sebagian lagi bermodalkan peralatan tukang dan kayu, secara swadaya membuat sendiri tempat berjualan.

Sementara itu Pemkab Batara juga telah merapatkan sehubungan dengan rencana relokasi pedagang pasar pendopo Muara Teweh bersama dengan stake holder terkait, konsultan dan para pedagang. Aspirasi dari para pedagang menginginkan relokasi di satu tempat atau tidak terpisah-pisah, yaitu di sepanjang tepian jalan Panglima Batur dekat Water Pront City serta juga memanfaatkan terminal bongkar muat eks koramil.

Namun khusus lokasi terminal bongkar muat tersebut, kemungkinan tidak akan dapat digunakan oleh pedagang. Sebab dari keterangan Setda Batara, Ir H Jainal Abidin MAP, berdasarkan masukan konsultan yang merencanakan pembangunan pasar pendopo, lokasi terminal bongkar muat juga termasuk dalam areal bangunan pasar yang baru, berarti tidak mungkin ditempati. Sementara untuk usulan di sepanjang tepian Jalan Panglima Batur dekat Water Front City masih dikaji oleh pemerintah daerah.

“Kita masih mendiskusikan mencari alternatif yang terbaik untuk relokasi pedagang pasar pendopo yang berjumlah sekitar kurang lebih sebanyak 450 pedagang, dengan jangka waktu sekitar 2,5 tahun,” ucap Jainal.

Menurut Sekda, untuk lokasi yang diusulkan pedagang di Jalan Panglima Batur, hitungan-hitungan yang pihaknya lakukan, dengan blok tempat berdagang ukuran 2 x 3 meter, kemampuan daya tampungnya hanya sekitar kurang lebih 225 pedagang, itu pun sudah termasuk dengang yang bongkar muat.

Sementara jika sepanjang tepian bahu Jalan Panglima Batur yang tidak menyentuh keramik WFC, diperkirakan hanya dapat menampung sekitar kurang lebih 180 pedagang.

“Sementara jumlah pedagang sebanyak 450, itu berarti tidak cukup untuk menampung semuanya,” ujarnya.

Oleh sebab itu alternatif lain yang sedang pihaknya kaji untuk para pedagang ini adalah memanfaatkan bangunan lantai dua pertokoan, untuk para pedagang yang berjualan bahan yang kering (pakaian serta aksesoris dan lainnya). Kemudian memperpanjang areal lokasi berjualan di jalan Panglima Batur menuju ke arah Polres Batara, memanfaatkan jalan malu yang sekarang di gunakan sebagai lokasi Pasar Blauran untuk para pedagang ikan dan sayur, sebab untuk pasar belauran tidak buka di pagi hari atau baru buka pada pukul 13.00 WIB sampai malam hari.

“Ini adalah alternatif untuk bisa menampung para pedagang pasar pendopo ini, dan ini masih kita kaji. Tapi kita tetap pertimbangkan kebersihan dan keindahan kota, serta juga kases mobilitas masyarakat,” katanya.

Selain itu pula, alternatif lain yang sedang dikaji oleh Pemkab Batara adalah merelokasi pedagang pasar pendopo ini ke Lapangan Hijau Muara Teweh. “Yang jelas nanti penempatan relokasi pedagang dengan jangka waktu sekitar 2,5 tahun ini akan diatur, bagi pedagang ikan akan dikelompokan sesama pedagang ikan, demikian pula dengan pedagang sayur, sembako dan lainnya. Jadi nanti tidak bercampur-campur sehingga juga memudahkan Pemkab Batara dalam hal pengawasan kebersihan dan pengamanan,” katanya, seraya mengatakan kalau masalah ini akan dibahas lebih lanjut kembali.

Ditambahkannya, bahwa untuk bangunan sementara untuk para pedagang akan segera dibangun dalam waktu dekat. Terkait masalah pendanaanya hal ini akan dibicarakan dengan pimpinan atau Bupati Batara.

“Saya pikir dalam waktu sedekat-dekatnya tempat berdagang sementara untuk para pedagang harus segera kita bangun, dan yang membangun mau tidak mau nantinya adalah pemerintah, sebab sekarang pedagang masih dalam kesusahan karena baru mengalami musibah kebakaran, dan ini juga agar bangunan nanti sama atau seragam dan ukurannya tidak berbeda-beda, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan diantara sesama pedagang,” tuturnya.(viv/vin)

 

0 Komentar

Tulis Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Komentar Facebook